Kamis, 10 Juli 2014

Sarana Permainan Voly


Sarana dan prasarana dalam Permainan Bola Voli

Bola Voli

Fasilitas & Peralatan Permainan Bola Voli (Sarana)
Fasilitas dan peralatan permainan bola voli terdiri dari beberapa alat, yaitu :
ΓΌ Lapangan permainan

Senam lantai

SENAM LANTAI MERUPAKAN OLAHRAGA YANG MELATIH KELENTURAN DAN KEKUTAN TUBUH DI SAAT YANG BERSAMAAN.

Langkah Langkah Dasar Latihan Ketrampilan Mental

2.4 Langkah- langkah dasar dalam melaksanakan latihan keterampilan mental
Apabila telah ada keyakinan bahwa faktor mental dan psikologis memerlukan latihan khusus, maka pertanyaan berikutnya adalah apakah program latihan yang diberikan tersebut bertujuan memenangkan suatu pertandingan, ataukah untuk mengembangkan kepribadian atletmenjadi lebih baik.
Orientasi mengenai latihan keterampilan mental
Atlet perlu di jelaskan mengenai program latihan keseluruhan yang akan di berikan kepadanya, terutama penjelasan mengenai konsep-konsep dasar program latihan. Dalam menjelaskan program tersebut,perlu di yakinkan bahwa program latihan tersebut memang bermanfaat. Misalnya melalui pemberian contoh penampilan atlet yang berhasil karena memiliki keterampilan mental.
Pada orientasi pertama ini, juga perlu di jelaskan bahwa program latihan mental juga harus dilakukan dengan cara sistematis. Artinya, latihan tersebut merupakan suatu proses yang bertahap dan di lakukan dengan penuh kesadaran, kemantapan, serta keyakinan diri bahwa hasilnya akan mempengaruhi keterampilan.
Pelaksanaan latihan keterampilan mental
Isi dari keterampilan mental sangat bervariasi, tergantung dari berbagai segi, baik dari jenis olahraga maupun dari kualitas pertandingan yang akan di hadapi. Pelatih psikologi olahraga dapat menyusun program latihan keterampilan mental yang disesuaikan dengan hal-hal tersebut.
Pada awal latihan, dilakukan konseling pribadi. Konseling pribadi merupakan pertemuan yang di lakukan secara pribadiantara atlet dan psikolog olahraga atau pelatihnya dalam suasana yang baik.
Latihan keterampilan mental juga di maksudkan untuk menanggani masalah psikis dan stres, meningkatkan daya konsentrasi,serta menentukan sasaran efektif yang perlu di perhatikan dalam praktek dan pertandingan.
Latihan keterampilan mental juga di lakukan untuk melatih perhatian dan konsentrasi dalam mengikuti latihan drilling, latihan drilling adalah latihan ketika atlet harus memukul bola, misalnya pada tenis meja atau kok pada bulu tangkissecara terus-menerus pada satu  seri, dan atlet harus memusatkan perhatian dan konsentrasi untuk mengembalikan bola dan kok tersebut. Pemantauan keberhasilan seorang atlet dalam metode drilling tersebut sangat penting di lakukan n, karena dapat berfungsi sebagai umpan balik.
Latihan keterampilan mental sangat membutuhkan waktu yang lama. Contohnya adalah latihan simulasi pertandingan atau menciptakan suasana pertandingan sungguhan di  dalam situasi latihan. Jika latihan simulasi pertandingan menunjukan keberhasilan yang baik, maka simulasi latihan dapat semacam acuan atau pegangan dalam pertandingan yang sesungguhnya.
Dilihat dari sudut kualitas latihan, sekalipun utamanya adalah melakukan latihan ketermpilan mental, namun pada hakikatnya juga terjadi latihan fisik. Apabila urutan-urutan rangkaian gerakan oleh pelatih ternyata tidak di setujui oleh atlet, tetap terbuka kesempatan untuk berdiskusi lagi agar terjadi kesepakatan bersama.
Juga termasuk dalam latihan keterampilan mental adalah latihan memtukan sasaran(goal-setting). Penentuan sasaran yang tidak realistis menurut pelatih psikolog olahraga, dapat
Di ubah dalam bentuk pendekatan-pendekatan pribadi dalam suasana konseling yang bersifat rahasia. Penentuan sasaran yang tidak realities karena terlalu mudah, tentunya berkaitan dengan kualitas pribadi atlet sebagai seorang yang segan atau tidak brani mengambil resiko untuk mengalami kegagalan. Meskipun demikian keadaan ini juga dapat berdampak negative karena berhubungan erat dengan tingginya gugahan emosi. Akibatnya atlet akan lebih mudah jatu kedalam geguncangan emosi sesuai dengan  U terbalik sehigga prestasinya menjadi kurang baik.
Dalam upaya memberikan latihan kepada atlet dalam suasana seperti itu kecermatan pelatih untuk menyusun program latihan yang tepat sangat diperlukan. Program latihan utamanya memerlukan perhatian terhadap kualitas dan cirri pribadi atlet yang bersangkutan. Dengan demikia, dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah dasar dalam memulai latihan keterampilan mental adalah sebagai berikut:
1.      Orientasi awal
2.      Evaluasi awal dari atlet
3.      Sesi kelompok untuk mempelajari keterampilan-keterampilan dasar
4.      Konseling pribadi atau individual
5.      Penerapan latihan keterampilan mental pada latihan dan strategi permainan
6.      Pemantauan kemajuan
7.      Evaluasi pada akhir musim pertandingan


            

Lempar Martil


        a.      Tahap memegang martil
Tahap memegang martil merupakan tahap pertama dari serangkaian gerakan dalam cabang lontar martil.
Petunjuk pelaksanaan :
1.        Martil dipegang dengan dua tangan.
2.      Untuk melindungi tangan, biasanya tangan kiri pelontar menggunakan sarung tangan.
3.       Tungkai martil terletak pada sendi jari-jari tangan kiri dan jari-jari tangan kanan diatasnya.

b.      Tahap ayunan
Petunjuk pelaksanaan :
1.        Ayunan pendahuluan dimulai dari suatu posisi dibelakang lingkaran dengan punggung menghadap ke lingkaran untuk melontar.
2.      Kaki hendaknya dibuka secukupnya dengan kepala martil terletak ditengah dibelakang sebelah kanan.
3.       Gerakan melingkar dimulai dengan memutar tubuh menghadap ke kiri dan pada saat itu juga mengangkat lengan dan punggung.
4.      Kedua lengan mengayun martil selebar mungkin, lengan harus tetap lurus sampai satu titik tinggi diatas bahu kiri.
5.      Setelah mencapai titik tertinggi tadi, siku ditekukan dan punggung diputar ke belakang begitu gerakan kebawah martil dimulai.
6.      Selama gerakan mengayun, titik tertinggi martil dibiarkan terletak di kiri belakang dan titik terendah didepan kanan.
7.      Berat badan dipindahkan dari satu kaki ke kaki lain, mendahului perpindahan arah martil.

c.       Tahap melontar
Petunjuk pelaksanaan :
1.        Tahap melontar dimulai ketika martil mencapai titik tertinggi dalam putaran martil.
2.      Ketika martil melampaui titik terendah, tubuh harus mulai berhenti berputar dan mulai mengangkat ke atas.
3.       Tenaga angkatan ini didapat dengan cara meluruskan kaki kiri sekuat tenaga, juga punggung, lengan dibiarkan pasif.
4.      Tarikan yang kuat oleh lengan kiri melengkapi pelepasan martil ini melalui bahu kiri.
5.      Kedua kaki harus terpantang kokoh diatas tanah pada saat martil dilepaskan.

                                                                                                                                                                                          Atletik Lempar Martil 

Lontar Martil
merupakan salah satu cabang olahraga atletik yang sering diperlombakan pada even-even olahraga baik ditingkat nasional maupun internasional. Ada beberapa Teknik Dasar Lontar Martil yang harus dikuasai oleh seorang pelempar diantaranya Posisi awalan dan ayunan, putaran dan transisi, fase akhir, dan lemparan. Untuk lebih jelasnya berikut ini akan dijelaskan teknik dasar lontar martil tersebut :
  •     Posisi Awal dan Ayunan
    Teknik dasar lontar martil dengan awalan dimulai dengan cara martil dipegang pada bagian handle dengan menggunakan tangan kiri kemudian ditutup dengan tangan kanandan posisi kedua ibu jari menyilang. Kepala martil boleh ditempatkan di atas tanah sebelah kanan atau dibelakang si pelempar kemudian pelempar dapat mengayunkan martil sebagi ayunan permulaan. Titik terendah dari ayunan permulaan adalah hanya ketika martil melewati bagian kanan dari kaki kanan.
  •     Putaran dan Transisi
    Ketika martil mencapai titik terendah pelempar mulai pivot di atas timit tungkai kiri dan ujung telapak kaki kanan. putaran dibuat di atas tumit dan kaki kiri sampai mengahadap ke arah depan dari lingkaran dan kemudian dilanjutkan dengan memutarnya  kembali di atas telapak kaki bagian depan sampai kembali ke arah semula. Tubuh bagian bawah membawa tubuh bagian atas bergerak ke depan, dengan tangan kiri menutup dada, dan selama tungkai bergerak, martilpun terus bergerak. Kaki kanan meninggalkan tanah ketika kaki kiri selesai dengan gerakan tumitny, berat badan dipindahkan ke tungkai kiri dan seterusnya.
  •     Fase Akhir
    Beberapa saat sebelum putaran berakhir atau sebelum martil mencapai titik terendah, pelempar sudah mulai menarik martilnya, mempercepat jalannya martil saat bergerak ke arah bawah dan mencoba untuk mempercepat gerakan kedua tungkai dalam upaya mempercepat gerakan kedua tungkai dalam upaya mempercepat putaran tubuh bagian bawah.
  •     Lemparan
    Teknik dasar lontar martil pada tahap ini dilakukan dengan meluruskan kedua tungkai dengan kuat, badan lebih dibusungkan lagi dengan kepala direbahkan ke arah belakang atau dengan posisi tertengadah, ketika martil telah ditempatkan pada dudut trayektorinya, pelempar harus melihat ke arah lemparan, kemudian mengangkat kedua lengan di akhir gerakannya dan pandangan kedua matanya mengikuti jalannya martil sebelum mengganti posisi kedua tungkainya. Nah, itulah Atletik Lempar Martil yang dapat penulis uraikan.


Kedisiplinan Mental

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Teori belajar disiplin mental, merupakan salah satu pandangan yang mula-mula memberikan definisi tentang belajar yang disusun oleh filsuf Yunani bernama Plato. Pandangan filsafatnya yaitu tentang idealisme yang melukiskan pikiran dan jiwa yang bersifat dasar bagi segala sesuatu yang ada. Idealisme hanyalah ide murni yang ada di dalam fikiran, karena pengetahuan orang berasal dari ide yang ada sejak kelahirannya.
Teori disiplin mental setidaknya mempunyai dua versi pokok, yakni humanisme klasik dan psikologi kecakapan (faculty psychology). Masing-masing merupakan hasil dari perkembangan tradisi budaya yang berbeda. Humanisme klasik berasal dari Yunani kuno. Humanisme Klasik mempunyai dasar asumsi asumsi bahwa otak manusia merupakan satu pusat atau sentral yang aktif dalam berhubungan dengan lingkungannya, dan secara moral ia netral saat lahir
Teori belajar disiplin mental menekankan pada latihan mental yang diberikan dalam bentuk studi. Disiplin mental juga dikenal dengan ungkapan disiplin formal. Gagasan utama disiplin mental adalah pada otak atau pikiran yang dianggap sebagai benda nonfisik terbaring tidak aktif  hingga ia dilatih. Kecakapan pikiran atau otak seperti ingatan, kemauan, akal budi, dan ketekunan merupakan “otot-ototnya” pikiran atau otak tadi.  Otak dipersepsikan seperti otot-otot fisiologis yang bisa kuat jika dilatih secara bertahap dan terus menerus serta dengan porsi yang memadai, maka otot-otot pikiran atau otak pun demikian halnya. Otak manusia  bisa kuat dalam arti lebih tinggi kemampuannya jika dilatih secara bertahap dan memadai.
1.2   Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat di rumuskan beberapa masalah, antara lain:
1.      Apa pengertian dari ke disiplinan mental?
2.      Apa saja aliran-aliran dari kedisiplinan mental?
3.      Bagaimana hakikat teori kedisiplinan mental?
4.      Apa tujuan teori disiplin mental?
5.      Bagaimanakah implementasi teori disiplin mental?

1.3   Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain:
1.      Untuk mengetahui pengertian dari ke disiplinan mental.
2.      Untuk mengetahui aliran-aliran dari kedisiplinan mental.
3.      Untuk mengetatui hakikat teori kedisiplinan mental.
4.      Untuk mengetahui dan memahami teori kedisiplinan mental.
5.      Untuk mengetahui implementasi dari teori disiplin mental.


                                                                 BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Keplidisiplinan Mental
Teori belajar disiplin mental berkembang sebelum abad ke-20. Teori ini tanpa dilandasi eksperimen dan hanya berdasar pada filosof atau spekulatif. Walaupun berkembang sebelum abad ke-20, namun teori disiplin mental sampai sekarang masih ada pengaruhnya, terutama dalam pelaksanaan pengajaran disekolah-sekolah. Teori ini menganggap bahwa secara psikologi individu memiliki kekuatan, kemampuan atau potensi-potensi tertentu. Belajar adalah pengalaman dari kekuatan, kemampuan dan potensi-potensi tersebut.
Teori belajar disiplin mental, merupakan salah satu pandangan yang mula-mula memberikan definisi tentang belajar yang disusun oleh filsuf Yunani bernama Plato. Pandangan filsafatnya yaitu tentang idealisme yang melukiskan pikiran dan jiwa yang bersifat dasar bagi segala sesuatu yang ada. Idealisme hanyalah ide murni yang ada di dalam fikiran, karena pengetahuan orang berasal dari ide yang ada sejak kelahirannya. Belajar dilukiskan sebagai pengembangan oleh fikiran yang bersifat keturunan. Kepercayaan ini kemudian dikenal sebagai konsep “Disiplin Mental” (Bell Gredler, 1994:21)
Dalam teori disiplin mental individu memiliki kekuatan, kemampuan atau potensi-potensi tertentu. Menurut Jean Jacques Rosseon, anak memiliki potensi-potensi yang masih terpendam, melalui belajar anak harus diberi kesempatan untuk mengembangkan atau mengaktualkan potensi tersebut.
Menurut psikologi atau Faculty Psychology individu memiliki sejumlah daya-daya seperti daya mengenal, mengingat, menganggap, mengkhayal, berfikir dan sebagainya. Daya itu dapat dikembangkan melalui latihan dalam bentuk ulangan, kala anak dilatih banyak mengulang-ulang, menghapal sesuatu maka ia akan ingat terus akan hal itu.
Menurut rumpuan teori disiplin mental, dari kelahirannya atau secara herediter, anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Ada beberapa teori yang termasuk rumpun disiplin mental sebagai berikut:
1. Teori disiplin mental Theistic, berasal dari psikologi daya seperti mengamati, menganggap, mengingat, berfikir, memecahkan masalah dan sebagainya.
2. Teori disiplin mental Humanistik, lebih mementingkan keseluruhan – keutuhan.
3. Teori disiplin mental Naturalisme, teori ini mempunyai potensi atau kemampuan untuk berbuat atau melaksanakan tugas, tetapi juga memiliki kemauan dan kemampuan untuk berkembang dan belajar sendiri.
4. Teori disiplin mental Apresiasi, teori ini membantu anak untuk mempunyai kemampuan untuk mempelajari sesuatu dan menguasai pengetahuan selanjutnya. Demikian seterusnya, semakin tinggi pula masa apresiasinya.
2.2 Aliran Kedisiplinan Mental
Teori disiplin mental setidaknya mempunyai dua versi pokok, yakni humanisme klasik dan psikologi kecakapan (faculty psychology). Masing-masing merupakan hasil dari perkembangan tradisi budaya yang berbeda. Humanisme klasik berasal dari Yunani kuno. Humanisme Klasik mempunyai dasar asumsi asumsi bahwa otak manusia merupakan satu pusat atau sentral yang aktif dalam berhubungan dengan lingkungannya, dan secara moral ia netral saat lahir. Humanisme adalah suatu pandangan dan jalan hidup yang berpusat pada kepentingan dan nilai-nilai manusia. Humanisme klasik itu hanya satu dari bentuk-bentuknya yang ada (Asri Trianti, 2008: 5).

Bentuk yang berlainan dari humanisme klasik adalah humanisme psikedelik (psychedelic humanism) dan humanisme saintifik (scientific humanism). Humanisme psikedelik menekankan kepada sifat-sifat keotonomian dan sifat-sifat aktif manusia dengan ciri “manusia melakukan dirinya sendiri”. Jenis humanisme ini meliputi psikologi belajar aktualisasi diri, yang memandang manusia sebagai individu yang baik dan aktif di dalam dirinya. Penekanan dalam belajarnya adalah pada pelatihan kekuatan mental secara internal. Jika seseorang ingin memiliki kecakapan atau keahlian di bidang tertentu, maka ia harus secara internal dan intensif, melatih dirinya di bidang tersebut, hingga mampu menguasainya. Jika Anda ingin menguasai bagaimana menyetir mobil, tentu harus berlatih sendiri secara intensif oleh Anda sendiri sampai bisa.

Humanisme Saintifik lebih menekankan kepada peningkatan kemampuan dengan jalan menerapkan proses pemecahan masalah secara ilmiah. Jenis humanisme ini sesuai juga dengan psikologi bidang Gestalt. Dengan berlatih menyelesaikan atau memecahkan masalah-masalah sosial, ujian, atau bidang permasalahan apapun, maka seseorang akan sampai kepada penguasaan atas permasalahannya tadi. Permasalahan yang lain pun pada akhirnya akan dapat dengan mudah diselesaikan.

Otak atau pikiran manusia dianggap sedemikian rupa sehingga dengan pengolahan yang memadai, otak dapat mengetahui dunia seperti pada kenyataannya. Manusia mempunyai kebebasan memilih dalam keterbatasan bertindak dilihat dari segi apa yang dipahaminya. Sebagai makhluk yang tidak hanya memiliki instink saja, orang lebih suka berusaha memahami sesuatu yang kompleks dan sulit-sulit, karena mempunyai dasar akal budi. Orang mampu berpikir rasa dan berpikir rasional. orang bertindak karena mereka paham akan apa yang dilakukannya. Dengan kata lain mereka menyadari akan perbuatannya, atau setidaknya mereka tahu dan berkeinginan untuk melakukan apa yang dikehendakinya.

Di dalam kerangka rujukan humanisme klasik, pengetahuan dianggap sebagai ciri bangun prinsip kebenaran yang pasti atau tetap, yang diteruskan sebagai warisan budaya atau sukunya. Prinsip prinsip ini telah ditemukan oleh para pemikir besar sepanjang sejarah manusia yang kemudian disusun ke dalam buku-buku besar. Menurut teori ini, kurikulum sekolah itu berdasar pada falsafah dan buku-buku klasik. Dan dalam hal ini, mempelajari buku-buku besar menjadi sesuatu yang penting. Contohnya misalnya di lembaga-lembaga pendidikan tradisional kita yang lebih menekankan kepada mempelajari buku-buku besar karangan para ahli di jaman lampau. Di lembaga-lembaga pesantren di Indonesia, sampai sekarang banyak yang mendasarkan diri pada buku atau kitab-kitab “kuning” sebagai bahan kajiannya.

Christian Wolff (1679-1754), seorang ahli filsafat Jerman, berpendapat bahwa pikiran atau otak manusia mempunyai kecakapan yang jelas dan berbeda-beda. Pada saat tertentu pikiran berada pada satu kegiatan khusus, dan pada saat lain terkadang sebagai bagian dari satu aspek dari kegiatan tertentu lain. Menurut Wolff, kecakapan dasar yang umum adalah: pengetahuan, perasaan, ingatan, dan akal budi inti. Sedangkan kecakapan akal budi meliputi kemampuan menggambarkan perbedaan-perbedaan dan menafsirkan atau menilai bentuk. Kecakapan kemauan dipercaya sebagai hasil perkembangan ide atau gagasan pikiran bahwa sifat manusia bisa dijelaskan melalui melihat dari segi prinsip ketidakbaikan (Asri Trianti, 2008: 7).

Sebenarnya disiplin mental telah ada sejak jaman kuno, dan pengaruhnya masih tampak dalam kegiatan komunikasi praktis, seperti di lingkungan pendidikan atau sekolahan, di lembaga lembaga non pendidikan, dan bahkan di organisasi-organisasi kemasyarakatan, sampai sekarang. Manusia mempunyai kelebihan dengan adanya kemampuan berpikir dan berakal budi, hal ini yang menyebabkan perkembangan yang berbeda. Sejak dahulu, semua binatang hanya mengandalkan instinknya saja dalam bergerak. Mereka tidak pernah ingin merubah kondisi kehidupannya untuk ditingkatkan sesuai dengan tuntutan jaman. Sedangkan pada manusia, karena mempunyai nafsu dan kemauan yang dibarengi dengan kemampuan akalnya, maka dunia dikuasainya untuk dibentuk sesuai dengan seleranya.

Semua perubahan-perubahan itu terjadi karena manusia selalu mengalami belajar, mengalamami perubahan perilaku ke arah yang lebih berkualitas, dalam rangka meningkatkan kemampuannya,  terutama kemampuan akal dan budinya. Kita bisa mengembangkan konsep ini secara aplikatif.  Disiplin mental yang sebenarnya disebut juga dengan disiplin formal yang selalu tampak dalam hampir semua aspek pembelajaran manusia. Artinya, ketika manusia melakukan belajar, ia selalu mengalami pelatihan secara displin, baik internal maupun eksternal. Contoh dalam tataran praktis keseharian. Olahragawan terkemuka biasanya hasil latihan yang disiplin. Ilmuwan terkemuka juga merupakan hasil kerja keras belajar secara disiplin. Tidak ada orang yang tiba-tiba menjadi ahli dalam bidang tertentu.


2.3 Hakikat Teori Kedisiplinan Mental
Teori belajar disiplin mental lebih menekankan pada keterlibatan psikis, sedangkan fisik tidak terlalu berpengaruh. Dalam teori ini, belajar diartikan sebagai pengembangan dari kekuatan, kemampuan, dan potensi-potensi yang dimiliki setiap individu. Teori ini menganggap bahwa secara psikologi individu memiliki kekuatan, kemampuan atau potensi-potensi tertentu. Belajar adalah pengembangan dari kekuatan, kemampuan dan potensi-potensi tersebut.
Teori belajar disiplin mental merupakan salah satu pandangan yang mula-mula memberikan definisi tentang belajar yang disusun oleh filsuf Yunani bernama Plato. Pandangan filsafatnya yaitu tentang idealisme yang melukiskan pikiran dan jiwa yang bersifat dasar bagi segala sesuatu yang ada. Idealisme hanyalah ide murni yang ada di dalam pikiran, karena pengetahuan orang berasal dari ide yang ada sejak kelahirannya. Belajar dilukiskan sebagai pengembangan olah pikiran yang bersifat keturunan. Kepercayaa ini kemudian dikenal sebagai konsep “disiplin mental”.
Penganut belajar disiplin mental Jean Jacgues Rousseau yang menggangap anak memiliki potensi-potensi yang masih terpendam. Melalui belajar, anak harus diberi kesempatan mengembangkan atau mengaktualkan potensi-potensi tersebut. Sesungguhnya anak memiliki kekuatan sendiri untuk mencari, mencoba, menemukan dan mengembangkan dirinya sendiri.
Teori belajar disiplin mental menekankan pada latihan mental yang diberikan dalam bentuk studi. Disiplin mental juga dikenal dengan ungkapan disiplin formal. Gagasan utama disiplin mental adalah pada otak atau pikiran yang dianggap sebagai benda nonfisik terbaring tidak aktif  hingga ia dilatih. Kecakapan pikiran atau otak seperti ingatan, kemauan, akal budi, dan ketekunan merupakan “otot-ototnya” pikiran atau otak tadi.  Otak dipersepsikan seperti otot-otot fisiologis yang bisa kuat jika dilatih secara bertahap dan terus menerus serta dengan porsi yang memadai, maka otot-otot pikiran atau otak pun demikian halnya. Otak manusia  bisa kuat dalam arti lebih tinggi kemampuannya jika dilatih secara bertahap dan memadai.
  Apabila belajar ditinjau dari teori belajar disiplin mental maka belajar lebih ditekankan pada masalah penguatan atau pendisiplinan kecakapan berpikir otak yang pada akhirnya menghasilkan perilaku kecerdasan. Contohnya, dalam konteks komunikasi, kecakapan berkomunikasi seseorang pun bisa dilatih sejak dini supaya berhasil dengan baik. Tampaknya memang benar bahwa ahli-ahli komunikasi praktis seperti ahli pidato, ahli kampanye, ahli seminar, dan sebagainya. Semuanya merupakan hasil dari proses latihan. Latihan dalam hal keahlian ini identik dengan pengalaman. Semakin lama pengalaman seseorang di bidangnya maka semakin ahli orang yang bersangkutan.
Menurut teori belajar disiplin mental, orang dianggap sebagai paduan dari dua jenis zat dasar atau dua jenis realitas, yaitu pikiran rasional dan organisme biologis. Dengan begitu, maka konsepanimal rasional digunakan untuk mengenali manusia, sedangkan yang didisiplinkan atau dilatih melalui pendidikan adalah pikiran.
Menurut konsep ini pada dasarnya manusia terbentuk dari dua zat yakni mental dan fisik secara berpadu. Bagaimana pun juga, pikiran dan badan atau zat rohaniah dan zat badaniah tidak mempunyai karakteristik umum (yang sama). Pemikiran akan konsep pikiran atau rohani sampaisekarang masih berlangsung, baik yang datangnya dari orang-orang primitif (yang mengatakan bahwa nyawa berpindah ketika sedang bermimpi) maupun konsep orang-orang sekarang yang lebih kompleks. Dalam hal ini orang melihat belajar sebagai proses perkembangan akibat dari adanya pelatihan pikiran atau otak. Dengan demikian maka belajar menjadi suatu proses yang terjadi di dalam di mana berbagai kekuatan seperti imajinasi, memori, kemauan, dan pikiran diolah. Dan dari sana pendidikan pada umumnya dan belajar pada khususnya menjadi suatu proses disiplin mental.
Teori belajar disiplin mental setidaknya mempunyai dua versi pokok, yakni humanisme klasikdan psikologi kecakapan (faculty psychology). Masing-masing merupakan hasil dari perkembangan tradisi budaya yang berbeda. Humanisme klasik berasal dari Yunani Kuno. Humanisme klasik mempunyai dasar asumsi asumsi bahwa otak manusia merupakan satu pusat atau sentral yang aktif dalam berhubungan dengan lingkungannya dan secara moral ia netral saat lahir. Humanisme adalah suatu pandangan dan jalan hidup yang berpusat pada kepentingan dan nilai-nilai manusia. Humanisme klasik itu hanya satu dari bentuk-bentuknya yang ada.
Bentuk yang berlainan dari humanisme klasik adalah humanisme psikedelik (psychedelic humanism) dan humanisme saintifik (scientific humanism). Humanisme psikedelik menekankan kepada sifat-sifat keotonomian dan sifat-sifat aktif manusia dengan ciri “manusia melakukan dirinya sendiri”. Jenis humanisme ini meliputi psikologi belajar aktualisasi diri yang memandang manusia sebagai individu yang baik dan aktif di dalam dirinya. Penekanan dalam belajarnya adalah pada pelatihan kekuatan mental secara internal. Jika seseorang ingin memiliki kecakapan atau keahlian di bidang tertentu, maka ia harus secara internal dan intensif melatih dirinya di bidang tersebut hingga mampu menguasainya.
Humanisme saintifik lebih menekankan kepada peningkatan kemampuan dengan jalan menerapkan proses pemecahan masalah secara ilmiah. Jenis humanisme ini sesuai juga dengan psikologi bidang Gestalt. Dengan berlatih menyelesaikan atau memecahkan masalah-masalah sosial, ujian, atau bidang permasalahan apapun, maka seseorang akan sampai kepada penguasaan atas permasalahannya tadi. Permasalahan yang lain pun pada akhirnya akan dapat dengan mudah diselesaikan.
Otak atau pikiran manusia dianggap sedemikian rupa sehingga dengan pengolahan yang memadai, otak dapat mengetahui dunia seperti pada kenyataannya. Manusia mempunyai kebebasan memilih dalam keterbatasan bertindak dilihat dari segi apa yang dipahaminya. Sebagai makhluk yang tidak hanya memiliki instink saja, orang lebih suka berusaha memahami sesuatu yang kompleks dan sulit-sulit, karena mempunyai dasar akal budi. Orang mampu berpikir rasa dan berpikir rasional. orang bertindak karena mereka paham akan apa yang dilakukannya. Dengan kata lain mereka menyadari akan perbuatannya atau setidaknya mereka tahu dan berkeinginan untuk melakukan apa yang dikehendakinya.
Di dalam kerangka rujukan humanisme klasik, pengetahuan dianggap sebagai ciri bangun prinsip kebenaran yang pasti atau tetap, yang diteruskan sebagai warisan budaya atau sukunya. Prinsip prinsip ini telah ditemukan oleh para pemikir besar sepanjang sejarah manusia yang kemudian disusun ke dalam buku-buku besar. Menurut teori ini, kurikulum sekolah itu berdasar pada falsafah dan buku-buku klasik. Dan dalam hal ini, mempelajari buku-buku besar menjadi sesuatu yang penting. Contohnya, di lembaga-lembaga pendidikan tradisional kita yang lebih menekankan kepada mempelajari buku-buku besar karangan para ahli di jaman lampau. Di lembaga-lembaga pesantren di Indonesia, sampai sekarang banyak yang mendasarkan diri pada buku atau kitab-kitab “kuning” sebagai bahan kajiannya.
Christian Wolff (1679-1754) seorang ahli filsafat Jerman, berpendapat bahwa pikiran atau otak manusia mempunyai kecakapan yang jelas dan berbeda-beda. Pada saat tertentu pikiran berada pada satu kegiatan khusus dan pada saat lain terkadang sebagai bagian dari satu aspek dari kegiatan tertentu lain. Menurut Wolff, kecakapan dasar yang umum adalah pengetahuan, perasaan, ingatan, dan akal budi inti. Sedangkan kecakapan akal budi meliputi kemampuan menggambarkan perbedaan-perbedaan dan menafsirkan atau menilai bentuk. Kecakapan kemauan dipercaya sebagai hasil perkembangan ide atau gagasan pikiran bahwa sifat manusia bisa dijelaskan melalui melihat dari segi prinsip ketidakbaikan.
Sebenarnya disiplin mental telah ada sejak jaman kuno, dan pengaruhnya masih tampak dalam kegiatan komunikasi praktis, seperti di lingkungan pendidikan atau sekolahan, di lembaga lembaga non pendidikan, dan bahkan di organisasi-organisasi kemasyarakatan sampai sekarang. Manusia mempunyai kelebihan dengan adanya kemampuan berpikir dan berakal budi, hal ini yang menyebabkan perkembangan yang berbeda. Sejak dahulu, semua binatang hanya mengandalkan instinknya saja dalam bergerak. Mereka tidak pernah ingin merubah kondisi kehidupannya untuk ditingkatkan sesuai dengan tuntutan jaman. Sedangkan pada manusia, karena mempunyai nafsu dan kemauan yang dibarengi dengan kemampuan akalnya, maka dunia dikuasainya untuk dibentuk sesuai dengan seleranya.
Semua perubahan-perubahan itu terjadi karena manusia selalu mengalami belajar, mengalami perubahan perilaku ke arah yang lebih berkualitas dalam rangka meningkatkan kemampuannya terutama kemampuan akal dan budinya. Kita bisa mengembangkan konsep ini secara aplikatif.  Disiplin mental yang sebenarnya disebut juga dengan disiplin formal yang selalu tampak dalam hampir semua aspek pembelajaran manusia. Artinya, ketika manusia melakukan belajar, ia selalu mengalami pelatihan secara displin, baik internal maupun eksternal. Contohnya, olahragawan terkemuka biasanya hasil latihan yang disiplin ilmuwan terkemuka juga merupakan hasil kerja keras belajar secara disiplin. Tidak ada orang yang tiba-tiba menjadi ahli dalam bidang tertentu
2.4 Tujuan Teori Disiplin Mental
a. Siswa dapat  menguasai materi pembelajaran secara bertahap dan terus menerus.
b. Siswa mampu mengikuti pembelajaran secara maksimal.


2.5 Implementasi implementasi teori disiplin mental
Implementasi teori disiplin mental dalam pembelajaran, khususnya dalam Ilmu Pengetahuan Sosial dilaksanakan dengan cara merancang materi-materi pembelajaran secara bertahap, kemudian memberikan materi-materi kepada anak dan memberikan evaluasi berbasis disiplin mental.
Disiplin mental yang sebenarnya disebut juga dengan disiplin formal yang selalu tampak dalam hampir semua aspek pembelajaran manusia. Artinya, ketika manusia melakukan belajar, ia selalu mengalami pelatihan seara disiplin, baik internal maupun eksternal. Contoh dalam tataran praktis keseharian. Olahragawan terkemuka biasanya hasil dari latihan yang disiplin. Tidak ada orang yang tiba-tiba menjadi ahli dalam bidang tertentu. Ilmuwan terkemuka juga merupakan hasil kerja belajar secara disiplin. Tidak ada orang yang tiba-tiba menjadi ahli dalam bidang tertentu.
Penerapan secara nyata dalam proses belajar mengajar yang berhubungan dengan disiplin mental dalam setiap mata pelajaran (misalnya pembelajaran tingkat SMP) sebagai berikut:
1.  Pembelajaran Ekonomi,  guru memberikan materi pembelajaran tentang sistem perilaku ekonomi dan kesejahteraan dengan memberikan pengertian tentang sistem berekonomi, ketergantungan, sosialisasi dan pemberian kerja, perkoperasian, kewirausahaan, dan pengelolaan keuangan perusahaan. Materi-materi tersebut dapat disampaikan siswa dengan menerangkan atau menggunakan buku dan diakhir pembelajaran siswamengerjakan LKS sebagai tes hasil evaluasi.
2. Pembelajaran Sejarah, guru dapat menggunakan gambar dan media lain dengan memberikan materi tentang dasar-dasar ilmusejarah, fakta, peristiwa dan proses sejarah. Siswa diakhir pembelajaran diminta untuk menerangkan kembali tentang pembelajaran tersebut agar lebih memperdalam materi pembelajaran bagi siswa lainnya.
3.Pembelajaran Geografi Guru dapat menggunakan peta dan diskusi tentang materi sistem informasi geografi, interaksi gejala fisik dan sosial, struktur internal suatu tempat, interaksi keruangan dan persepsi lingkungan dan kewilayahan. Guru dapat memberikan tugas dengan mempelajari materi lain untuk memperdalam materi.
4. Pembelajaran PKn, guru dapat mengunakan strategi belajar kelompok, untuk membahas tentang persatuan bangsa, nilai dan norma, hak asasi mausia, kebutuhan hidup, kekuasaan dan politik, masyarakat demokratis, Pancasila dakonstitusi negara serta globalisasi. Guru kemudian dapat bertanya kepada siswa satu persatu untuk menjawab pertanyaan dari guru untuk mengukur kedalaman pemahaman materi.
Teori disiplin mental juga dapat dilaksanakan dengan menggunakan pembelajaran dengan strategi ekspositori. Model pengajaran ekspositori merupakan kegiatan yang terpusat pada guru. Guru aktif memberikan penjelasan atau informasi terperinci tentang bahan pengajaran. Tujuan utama pengajaranekspositori adalah memindahkan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai kepada siswa. Hal yang esensial pada bahan pengajaran harus dijelaskan kepada siswa (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 172)
Guru dapat mengembangkan potensi siswa yaitu dengan cara :
1. Guru harus kreatif (potensi siswa diasah dan dilatih), hal ini ada dalam teori daya (teori yang masih serumpun dengan teori belajar disiplin mental).
2.  Yakin bahwa semua individu memiliki potensi, bakat, dan lain-lain (teori netivisme).
3. Jika guru tidak mampu mengembangkan potensi siswa yang khusus, maka guru harus mendekati potensi siswa yang umum. Contohnya, guru harus memberikan rasa aman kepada siswanya, dalam artian guru tidak boleh mempermalukan siswanya di depan kelas.
Teori disiplin mental apabila diimplementasikan dampak positifnya menjadikan siswa semakin hari semakin meningkat kemampuannya dalam menguasai materi dan ketrampilan. Siswa menjadi disiplin untuk mempelajari materi pembelajaran setahap demi setahap, dan semakin lama akan semakin banyak. Dampak negatif dari penerapan disiplin mental apabila dilaksanakan secara dominan dan tidak memperhatikan faktor-faktor psikologi akan membuat siswa menjadi tegang, dan proses belajar mengajar tidak bervariatif. Segi kognitif siswa yang kadang-kadang tidak cocok dengan metode pembelajaran berbasis disiplin mental menjadi terbebani dengan pembelajaran tersebut.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Teori belajar disiplin mental, merupakan salah satu pandangan yang mula-mula memberikan definisi tentang belajar yang disusun oleh filsuf Yunani bernama Plato. Pandangan filsafatnya yaitu tentang idealisme yang melukiskan pikiran dan jiwa yang bersifat dasar bagi segala sesuatu yang ada. Idealisme hanyalah ide murni yang ada di dalam fikiran, karena pengetahuan orang berasal dari ide yang ada sejak kelahirannya. Belajar dilukiskan sebagai pengembangan oleh fikiran yang bersifat keturunan.
Implementasi teori disiplin mental dalam pembelajaran, khususnya dalam Ilmu Pengetahuan Sosial dilaksanakan dengan cara merancang materi-materi pembelajaran secara bertahap, kemudian memberikan materi-materi kepada anak dan memberikan evaluasi berbasis disiplin mental.

3.2  Saran

Sebaiknya kedisiplinan mental perlu ditanamkan pada diri setiap individu, karena kediplinan mental sangat penting didalam kegiagan belajar mengangajarm, baik sebagai pengajar atau peseta pembelajaran.